Image NTT sebagai Provinsi Ternak

Image NTT sekarang ini di mata Indonesia tentunya tak lepas dari namanya atraksi keajaiban eksistensi komodo, keindahan alam luar biasa yang terbentang sepanjang Flores, Tenau hingga Atapupu, Sumba, Alor, Rote hingga Sabu. Image dan berjuta cerita luar biasa tempat-tempat ini selalu menjadi pilihan utama wall blog dan MedSos para traveling lovers. Bahkan budaya adat-istiadat yang salah satunya telah melahirkan begitu banyak corak tenunan akhir-akhir ini telah menjadi trend pilihan banyak presenter televisi nasional bahkan para pejabat dan pebisnis Indonesia. Namun tak dapat dipungkiri image NTT sebagai gudang ternak nasional juga masih terpelihara baik di kepala pemimpin negara ini hingga pedagang daging di pasar tanah abang.

Kehidupan masyarakat NTT tentunya tak dapat dipisahkan dengan yang namanya ternak. Dikenal juga sebagai daerah kering, minim curah hujan dan sumber air membuat masyarakatnya selalu menjadikan ternak sebagai komoditi pilihan untuk berusaha. Survey mendapati lebih dari 90 persen masyarakat NTT mempunyai ternak peliharaan. Tidak sedikit juga masyarakat peternak NTT yang menggantungkan hidupnya dari ternak-ternak peliharaannya. Bahkan hampir sebagian besar pemimpin di daerah ini juga mengaku dibesarkan dari hasil beternak orangtuanya. Namun harus diakui bahwa sebagian besar dari usaha-usaha ternak yang ada terutama ternak sapi masih dilakukan secara tradisional sehingga belum cukup memungkinkan peternak untuk mengambil keuntungan secara optimal dari usaha ternak yang ada. Apalagi jika kepemilikan ternaknya kurang dari 5 ekor. Jika dikalkulasi seorang peternak hanya berpenghasilan kurang lebih 280 ribu rupiah perbulannya dari usaha penggemukan sapi yang dilakukan. Suatu jumlah penghasilan yang sangat rendah jika dibandingkan dengan waktu dan tenaga yang diinvestasikan.

Pelihara Sapi, Panen Tomat – Melon – Sayuran dan lainnya

Politeknik Pertanian Negeri Kupang sebagai salah satu lembaga pendidikan vokasi di NTT merasa ikut bertanggung jawab untuk turut menggumuli berbagai permasalahan pertanian termasuk di dalamnya usaha peternakan. Berbagai penelitian dan kegiatan pengabdian pada masyarakat selalu digencarkan sejak berdirinya institusi ini, dengan harapan dapat membantu daerah ini mengatasi berbagai tantangan dalam usaha pertanian. Salah satunya adalah optimalisasi usaha peternakan sapi dengan cara mengintegrasikannya pada usaha pertanian hortikultura lahan kering dengan pemanfaatan irigasi Pro-Basa (irigasi curah atau semprot bawah mulsa).

Beternak sapi tentunya tidak terhindarkan dari penumpukan limbah ternak yang jika tidak ditangani secara baik akan membawa dampak negatif bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Padahal limbah yang dihasilkan mempunyai potensi kemanfaatan yang cukup besar. Lewat sebuah Tim Dosen yang terdiri dari: Ir. Thomas Lapenangga, MS; Vinni Tome, SP, MSc; Arnold Ch. Tabun, SPt, MSc; Yason Benu, SP, MSc; Jemseng Abineno, SP,MSc; Noldin Abola, SP, MSc; dan Cardial Leo Penu, SPt, MSc, Politeknik Pertanian Negeri Kupang berinisiasi menawarkan alternatif solusi bagi permasalahan rendahnya pendapatan peternak sapi dan juga permasalahan terbesar pertanian lahan kering yaitu keterbatasan air. Tawaran solusi yang dimaksudkan adalah: optimalisasi usaha peternakan sapi dengan cara mengintegrasikannya pada usaha pertanian hortikultura lahan kering dengan pemanfaatan irigasi Pro-Basa (irigasi semprot bawah mulsa). Ide metode dan teknologi ini lahir atas kolaborasi berbagai pengalaman hasil penelitian dan kegiatan pengabdian yang sudah sejak lama dilakukan terutama sejak 5 tahun terakhir oleh masing-masing anggota Tim. Berbagai upaya ini bermuara pada suksesnya aplikasi metode dan teknologi ini pada kegiatan pengabdian IbM Koperasi Sampah yang bermitra dengan kelompok masyarakat Baumata dan Jemaat Bait El Kampung Baru Penfui serta EWINDO sebagai penyedia benih unggul. Efek domino dari aplikasi ini, terutama teknologi irigasi Pro-Basa mulai juga diicoba di beberapa petani di Kabupaten Kupang, TTS, TTU, Belu dan Sabu.

Dengan kombinasi metode dan teknologi ini, peternak sapi tidak harus menunggu waktu 6-12 bulan bahkan lebih hanya untuk memanen hasil usahanya, tapi mereka hanya membutuhkan setidaknya 2 bulan untuk mulai memanen apa yang diusahakan bahkan keuntungan yang dapat diperoleh bisa mencapai 50 sampai 100 kali lipat dari apa yang meraka dapat jika hanya menunggu hasil penjualan sapi saja. Saatnya pelihara sapi, Panen tomat-melon-sayuran dll....dan menikmati keuntungan berkali-kali lipat.

Lihat video:

 

 

Konsep dasar dari teknologi:

Limbah peternakan sapi yang ada diolah menjadi bokashi atau kompos yang selanjutnya akan digunakan sebagai pupuk organik bagi tanaman hortikultura yang akan dikembangkan pada lahan yang ada. Penggunaan pupuk organik ini akan lebih menjamin kontinuitas ketersediaan unsur hara secara alami dan tentunya akan sangat bagi kualitas hasil tanaman. Lahan yang dibutuhkan dapat memanfaatkan lahan pekarangan sekitar rumah maupun lahan marginal yang tersedia.

Sementara itu, lahan yang akan digunakan harus diolah terlebih dahulu dan dibuatkan bedengan yang sekaligus diinstal dengan sistem irigasi Pro-Basa. Teknologi irigasi ini sangat cocok jika diaplikasikan pada lahan-lahan kering yang ketersediaan airnya terbatas. Tapi tentunya juga dapat digunakan pada daerah yang mempunyai kecukupan ketersediaan air. Teknologi ini dapat diandalkan dalam menghemat penggunaan air dari 40-50%. Keunggulan lain dari teknologi ini adalah sangat memudahkan petani dalam melakukan penyiraman tanaman sehingga waktu dan tenaga petani dapat lebih diluangkan bagi pemeliharaan dan perawatan tanaman dan tentunya catatan penting lainnya dari teknologi ini adalah biayanya yang murah. Keunggulan ini memungkinkan masyarakat siapa pun yang tidak mempunyai pengalaman bertani dapat menjadi “petani”.

Jangan lupa untuk menyiapkan tempat persemaian. Pemilihan benih yang baik tentu juga menjadi pertimbangan yang sangat penting. Benih produk EWINDO tentu saja dapat menjadi referensi yang sangat baik.

Penanaman dan pemeliharaan tanaman disesuaikan dengan jenis tanaman yang ditanam. Model usaha integrasi dengan pemanfaatan irigasi Pro-Basa ini telah teruji untuk tanaman tomat, melon, kacang panjang, buncis, cabai, timun, terung dan pare. Modifiikasi pengembangan untuk tanaman lain tentunya dapat disesuaikan dengan keadaan daerah dan juga pasar yang ada.

Haparan

Politeknik Pertanian Negeri Kupang tentunya sangat berharap apa yang sudah dihasilkan ini dapat ditularkan dan dikembangkan lebih besar lagi bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat petani-peternak yang ada di NTT bahkan Indonesia secara lebih luas. Secara institusi Politeknik Pertanian Negeri Kupang akan bersedia membantu dengan senang hati jika ada petani-peternak baik secara kelompok atau individu atau bahkan pihak-pihak lain yang ini mencoba mengaplikasikan metode dan teknologi. Jangan sungkan untuk menghubungi kami.

Bravo untuk kemajuan pertanian-peternakan lahan kering!

RizVN Login